السبت 23 ربيع آخر 1443 هـ
آخر تحديث منذ 50 دقيقة
×
تغيير اللغة
القائمة
العربية english francais русский Deutsch فارسى اندونيسي اردو Hausa
السبت 23 ربيع آخر 1443 هـ آخر تحديث منذ 50 دقيقة

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

الأعضاء الكرام ! اكتمل اليوم نصاب استقبال الفتاوى.

وغدا إن شاء الله تعالى في تمام السادسة صباحا يتم استقبال الفتاوى الجديدة.

ويمكنكم البحث في قسم الفتوى عما تريد الجواب عنه أو الاتصال المباشر

على الشيخ أ.د خالد المصلح على هذا الرقم 00966505147004

من الساعة العاشرة صباحا إلى الواحدة ظهرا 

بارك الله فيكم

إدارة موقع أ.د خالد المصلح

×

لقد تم إرسال السؤال بنجاح. يمكنك مراجعة البريد الوارد خلال 24 ساعة او البريد المزعج؛ رقم الفتوى

×

عفواً يمكنك فقط إرسال طلب فتوى واحد في اليوم.

Orang Yang Berihram Di Bulan Haji

مشاركة هذه الفقرة

Orang Yang Berihram Di Bulan Haji

تاريخ النشر : 14 ذو القعدة 1437 هـ - الموافق 18 اغسطس 2016 م | المشاهدات : 1359

Orang yang melakukan ibadah umroh di bulan Syawal atau Dzulqa’dah dan dia sudah berniat haji, apakah diwajibkan baginya membayar hadyu atau puasa ataukah kafarat yang lain ?

من اعتمر في أشهر الحج فهل يغنيه ذلك عن التمتع ؟

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam serta keberkahan semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya dan para sahabatnya.

Amma ba’du.

Telah menjadi kesepakatan para ulama bagi barang siapa saja yang berihram untuk umroh di bulan-bulan Haji dari Miqat-miqat dan ia telah selesai melaksanakan umrohnya dan tetap tinggal di Makkah kemudian ia lanjutkan dengan ibadah haji di tahun tersebut maka ia termasuk orang yang berhaji tamattu’.  Wajib baginya untuk menyembelih kurban jika mendapatkannya, jika tidak mampu maka wajib baginya puasa tiga hari di waktu haji dan tujuh hari ketika sudah kembali ke rumahnya. Dan para ulama berbeda pendapat tentang hukum orang yang berihram di bulan haji kemudian melakukan perjalanan sejauh jarak yang dibolehkan mengqashar shalat.

Ulama Hanabilah menyatakan : Niat haji tamattu’nya terputus. Dan ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa  :Tidak terputus hajinya kecuali jika kembali lagi ke miqat. Dan ulama Hanafiyah menyatakan : Jika ia kembali ke tempat tinggalnya, maka terputuslah haji tamattu’nya. Jika tidak maka tidak terputus.

Sedangkan ulama Malikiyah menyatakan : Jika ia kembali ke negerinya atau yang semisal dengan negerinya dalam jarak, maka terputuslah niat haji tamattu’nya. Dan ada yang menyatakan bahwa tidak ada pengaruh perjalanannya ataupun kembalinya dalam masalah putusnya hajinya itu. Bahkan ia adalah orang yang tetap berhaji tamattu’ jika sudah melakukan ihram di bulan haji kemudian berhaji di tahun yang sama dan ia tetap orang yang berhaji tamattu’. Dan ini adalah pendapat Hasan dan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Mundzir dan Ibnu Hazm dari ulama Dhahiriyah.

Dan yang jelas bahwa jika ia pulang kembali ke negerinya maka terputuslah niat hajinya dengan tamattu’. Karena tamattu’ menurut  para sahabat dan tabiin adalah mengumpulkan antara umroh dan haji dalam bulan-bulan haji dengan cara sekali safar. Maka barangsiapa yang pulang ke negerinya hilanglah makna haji tamattu’ yang dimilikinya.

Wallahu Ta’ala A’lam.

Saudaramu

Prof. Dr. Kholid Al Mosleh

24/11/1424 H

 

التعليقات (0)

×

هل ترغب فعلا بحذف المواد التي تمت زيارتها ؟؟

نعم؛ حذف