Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

Puasa / Definisi dan Hakikat Puasa

Definisi dan Hakikat Puasa

mempublikasikan tanggal : 2016-04-27 | Views : 9120
- Aa +

Apa itu hakikat puasa?

ما هي حقيقة الصوم؟

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala,Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala, kami akan menjawab pertanyaan Anda, kami katakan:

Puasa, dari sisi definisi syar'i artinya bagaimana seseorang mewujudkan puasa secara syariat? Yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelam matahari. Perkara-perkara yang membatalkan ada tiga; makan, minum, dan hubungan intim. Allah Subhanahu wa Ta'alaberfirman:

﴿فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ﴾

Artinya: "Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam." (QS. Al-Baqarah: 187).

Jadi, menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan dinamakan puasa. Akan tetapi disana ada puasa yang dilaksanakan oleh seluruh manusia -yang aku maksud dengan manusia adalah orang-orang yang beriman di antara orang-orang yang berpuasa-, yaitu bahwa mereka menahan diri dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang dapat membatalkan puasa dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelam matahari. Apakah perbuatan itu yang dimaksud atau dia memiliki target dan tujuan yang lebih besar dari sekedar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan intim?

Sesungguhnya hakikat puasa adalah mensucikan jiwa dan mendidiknya dengan tingkatan tarbiyah (pendidikan) dan tazkiyah (pensucian) yang paling tinggi. Itu karena sesungguhnya puasa telah disyariatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk mewujudkan ketakwaan, sebagaimana Dia berfirman:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183).

Hakikat dan ruh takwa adalah seseorang membuat benteng pelindung antara dirinya dan antara adzab Allah Ta'ala. Dengan itu anda dapat termasukdi antara orang-orang yang bertakwa. Bagaimana anda membuat benteng pelindung antara dirimu dan antara adzab Allah Ta'ala? Yaitu dengan Anda melaksanakan hal-hal yang Allah Ta'ala perintahkan kepadamu, dan meninggalkan hal-hal yang Allah Ta'ala larang terhadapmu dengan mengharap pahala di sisi-Nya dan merasa takut dari hukuman-Nya. Dengan cara itu anda dapat termasuk di antara orang-orang yang bertakwa.

Pengertian takwa sangat luas. Dimulai pertama kali di dalam hati dengan keshalihan, kebaikan, dan kesucian.

«أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ»

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Apabila dia baik, maka seluruh jasad akan baik. Namun apabila dia rusak, maka seluruh jasad akan rusak. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati."

Oleh karena itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda sebagaimana disebutkan di dalam Ash-Shahih dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

«اَلتَّقْوَى هَاهُنَا، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا، اَلتَّقْوَى هَاهُنَا»

"Takwa ada disini. Takwa ada disini. Takwa ada disini." Sambil beliau menunjuk ke dadanya.

Jadi, tujuan puasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tanpa memberi pengaruh kesucian dalam akhlak, keshalihan dalam amal perbuatan, keistiqamahan dalam muamalah, kebaikan dalam zhahir, dan kesucian, hidayah, dan cahaya dalam batin. Apabila tujuan-tujuan itu hilang, maka sesungguhnya puasa tidak mengantarkan kepada tujuannya, serta tidak membuahkan hasil yang diinginkan dan diharapkan. Oleh karena itu, disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

Sabda beliau: "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta." maksudnya perkataan yang batil. Perkataan dustabukan hanya persaksian palsu, melainkan setiap perkataan yang batil dan rusak. Barangsiapa yang tidak meninggalkan perbuatan dusta, maksudnya setiap perbuatan yang batil dan diharamkan, baik kecil maupun besar, baik berkenaan dalam hak Allah Ta'ala maupun hak para hamba. Itu semua termasuk di antara hal-hal yang dilarang oleh syariat.

Seyogyanya bagi seorang mukmin untuk mensucikan perkataan dan perbuatannya dari semua kebatilan, apalagi ketika dia berpuasa. Karena apabila dia telah berbaur dengan kebatilan, kepalsuan, keburukan, dan kejahatan baik dalam perkataan ataupun perbuatan, maka sesungguhnya dia belum merealisasikan tujuan puasa.

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

Perkara puasa sangat mengagumkan. Di dalamnya terdapat pensucian dan pendidikan jiwa. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ»

"Puasa adalah tameng."

Dalam riwayat lain disebutkan:

«وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ»

"Puasa adalah tameng."

Yaitu pelindung dari neraka dan adzab Allah Ta'ala. Akan tetapi, terdapat pelindung yang harus didahulukan untuk melindungi diri dari siksa neraka, dan perlindungan dari neraka tidak mungkin didapatkan tanpa melindungi dari perbuatan buruk penghuninya. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ»

"Puasa adalah tameng."

Yaitu pelindung dari perbuatan buruk yang mengantarkan kepada neraka, sebagaimana puasa adalah pelindung dari neraka.

Saya ingatkan kepada diri pribadi dan saudara-saudara yang berpuasa yang terkadang merasakan kepayahan dalam puasa disebabkan udara yang panas, apalagi orang-orang yang keluar berjihad, dan termasuk di dalam hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim:

«مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، بَاعَدَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا»

"Barangsiapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah Ta'ala, niscaya Allah Ta'ala akan jauhkan antara dirinya dan antara neraka sejarak tujuh puluh tahun."

Kami memohon kepada Allah Ta'ala agar menjauhkan kami dan kalian semua dari neraka.

Jika demikian, kita perlu memanfaatkan buah puasa dalam akhlak, muamalah, dan perkataan kita. Puasa dapat mengangkat dan menjunjung tinggi seseorang sampai ke tingkatan-tingkatan tertinggi. Oleh karena itu beberapa penulis mengatakan, "Puasa adalah keinginan yang tertinggi."

Benar, puasa adalah keinginan yang tertinggi dari setiap hal-hal yang rendah, hina, dan buruk. Oleh karena itu disebutkan di dalam Ash-Shahih, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَسْخُطْ وَلاَ يَرْفُثْ، فَإِنْ أَحَدٌ سَابَّهُ أَوْ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ،–في بعض الروايات-فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ»

"Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah dia marah dan janganlah dia berkata kotor. Jika ada seseorang memakinya, mencelanya, atau memeranginya -di beberapa riwayat-, hendaknya dia mengatakan, "Sesunggunya aku adalah orang yang berpuasa."

Apakah itu karena ketidakmampuan untuk membalas keburukan dengan semisalnya seperti yang telah Allah Ta'ala izinkan? Tidak, bahkan itu adalah keluhuran yang telah dicapai dan diperoleh oleh orang yang berpuasa, sehingga dia meninggalkan sesuatu yang diizinkan baginya seperti membalas keburukan dengan yang semisalnya:

﴿وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا﴾

Artinya: "Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal." (QS. Asy-Syura: 40)

dan beralih kepada pemaafan dan lapang dada:

﴿وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ﴾

Artinya: "Serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raf: 199) dengan dia mengatakan, "Sesungguhnya aku sedang puasa."

Sehingga dia menyatakan bahwa yang menahannya untuk membalas keburukan dengan keburukan adalah kebaikan dan batin yang sedang dia laksanakan, yaitu puasa dan niatnya. Sehingga itu tercermin pada perkataan, perbuatan, akhlak, dan seluruh urusannya. Dengan cara ini kita dapat mewujudkan puasa yang produktif.

Saya katakan seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di beberapa atsar:

«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صَوْمِهِ إِلَّا الْجُوعُوَالْعَطَشُ»

"Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya lapar dan haus."

Itu seperti yang beliau jelaskan dalam sabdanya:

«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ»

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataandanperbuatan dusta, maka Allah Ta'ala tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya."

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjadikan puasa kita diterima sesuai dengan keridhaan-Nya, yang dengannya amal hati kita menjadi bersih, akhlak kita menjadi shalih, perjalanan hidup kita menjadi baik, dan amal perbuatan kita menjadi istiqamah. Sesungguhnya Allah Ta'ala Maha Kuasa mengabulkannya; dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kita, Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus