Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

Khutbah Jumat / Bagaimana Anda Melindungi Diri Dari Api Neraka

Bagaimana Anda Melindungi Diri Dari Api Neraka

mempublikasikan tanggal : 2016-05-12 | Views : 2273
- Aa +

بماذا تتقي النار

BAGAIMANA ANDA MELINDUNGI DIRI DARI API NERAKA?

 

إنَّ الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مُضِلَّ له، ومن يُضلل فلن تجد له وليًا مرشداً، وأشهد أن لا إله إلا الله، إله الأولين والآخرين، لا إله إلا هو الرَّحمن الرَّحيم، وأشهد أنَّ محمدًا عبدُ الله ورسوله، صفيُّه وخليله، خِيرته من خلقه، لم يترك خيرًا إلا دلَّنا عليه، ولا شرًا إلا حذَّرنا منه، حتى تركنا على محجَّةٍ بيضاء، طريقٍ واضحٍ جليٍّ، لا زلل فيه ولا خفاء، من استمسك به هُدي، ومن حاد عنه ضلَّ وعمي، فصلَّى الله عليه وعلى آله وصحبه، ومن اتَّبع سنته بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد،

 

Bertakwalah kalian kepada Allah wahai kaum mukminin. Bertakwalah dengan sebenar-benarnya takwa. Laksanakan semua perintaNya yang menjadi hakNya. Dengan mengesakanNya. Dengan mengagungkanNya. Dengan mencintaiNya. Dengan membesarkanNya. Dengan ibadah sesuai dengan kadar kemampuan kalian. Dengan memohon keridhaanNya. Sebaik-baik amal di sisi Allah adalah memanfaatkan diri untuk keridhaanNya Yang Maha Tinggi. Sesungguhnya Allah mewajibkan ibadah Fardhu agar kalian mendapatkan kebahagian di dunia. Untuk menjaga kalian dari dahsyatnya hari kebangkitan. Bersemangatlah kalian dalam melaksanakan perintahNya karena mengharap keridhaanNya. Sungguh setiap ketaatan mendekatkan kalian kepadaNya sebagaimana maksiat menjauhkan kalian dariNya. Setiap qurbah dan ketaatan baik yang nampak maupun tersembunyi antara engkau dan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Agung, ataupun antara dirimu dengan sesamu dalam menepati setiap hak dan perbuatan baik kepada mereka, semua itu mendekatkan dirimu dengan Tuhanmu. Ketahuilah, bahwa sebesar-besar ketaatan kepada Allah adalah menunaikan hak yang telah diwajibkan Allah kepada dirimu. Dari hakNya dan hak hamba-hambaNya. Ibadah yang paling dicintai dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah adalah menuanaikan kewajiban dan ibadah Fardhu.

Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi salallahu alaihi wa salam bersabda: Allah ta’ala berfirman

«إنَّ الله قال: من عادى لي وليَّاً فقد آذنته بالحرب، وما تقرَّب إليَّ عبدي بشيءٍ أحبَّ إليَّ مما افترضتُ عليه، وما يزال عبدي يتقرب إليَّ بالنوافل حتى أحبَّه، فإذا أحببتُه كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يُبصر به، ويده التي يبطشُ بها، ورجله التي يمشي بها، وإن سألني لأعطينَّه، ولئن استعاذني لأُعِيذَنَّه، وما ترددتُ عن شيءٍ أنا فاعله تردُّدي عن نفس المؤمن، يكره الموتَ وأنا أكره مساءته»

Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Abu Hurairoh bahwasanya Nabi salallahu alaihi wa salam bersabda: Allah ta’ala berfirman “Sesungguhnya Allah berkata :

 “Siapa saja yang memusuhi hambaku yang menjadi kekasihKu maka aku ijinkan dia untuk diperangi. Tidak ada ibadah yang lebih aku sukai kecuali ibadah yang telah aku wajibkan kepadanya. Senantiasa seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu sampai aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku adalah pendengarannya dengannya ia mendengar. Penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat. Tangannya yang pakai untuk memegang. Kakinya yang ia gunakan untuk melangkah. Jika ia meminta maka pasti Aku beri. Jika ia meminta perlindungan kepadaKu maka Aku lindunya. Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya”

Tingkatan pertama : Engkau beribadah dengan apa yang diwajibkan Allah kepadamu.

 Tingkatan kedua : Engkau perbanyak amal saleh dan sunah.

Itulah jalan dengannya seorang hamba mendapatkan ridha Allah. Dengannya ia mendapatkan kemenangan akhirat dan keselamatan di dunia.

Wahai kaum mukminin,

Dari hal yang bisa yang bisa mendapatkan ridha Allah dengan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, ia sibukan dirinya dengan ibadah yang bisa menjaga dirinya dari neraka, atau menjauhkannya dari hidayah. Ini merupakan tanggung jawab dari setiap diri kita. Setiap kita telah diberi tugas untuk itu. Ia harus menjaga dirinya dari neraka. Allah berfirman :

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وأَهْلِيكُمْ نَارًا وقُودُهَا النَّاسُ والْحِجَارَةُ

“wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya dari manusia dan batu”

Sesungguhnya Allah memerintahkan kita untuk menyibukkan diri dan beramal dalam rangka menjaga diri kita dari azabNya, murkaNya, dari apa yang telah siapkan dari neraka. Semua itu bisa dilalui dengan ketaatan dan beribadah kepadaNya. Dirimu memikul tanggung jawab atas dirimu. Engkau akan dihisab dari yang kecil maupun yang besar, yang rahasia dan yang terang-terangan. Berhati-hatilah, Allah melihat dirimu sedangkan Ia tidak meridhaimu. Sungguh Allah telah mengeluarkan Adam dari surga karena kemaksiatan. Jangan pernah remehkan , jangan pernah sepelekan dosa walaupun kelihatan kecil. Karena dosa jika telah berkumpul bisa mengahncurkan pemiliknya.

Diriwiyatkan dalam hadis sahih dari sahabat Ibnu Masud bahwasanya Rasulullah bersabda

«إيَّاكم ومحقَّراتِ الذنوب، فإنهنَّ يجتمعن على الرجل حتى يُهلكنه»

 “Waspadalah dengan dosa-dosa yang kecil, karena ketika berkumpul akan menghancurkan pelakunya”

Rasulullah membuat permisalan

«كمثل قوم نزلوا أرض فلاة، فحضر صنيع القوم، فجعل الرجل ينطلق فيجيء بالعود، والرجل يجيء بالعود، حتى جمعوا سواداً، فأججوا نارا وأنضجوا ما قذفوا فيها»

 “seperti sekelompok orang sampai di tempat yang terbuka, kemudian mereka ingin memasak makanan. Maka setiap orang mengumpulkan kayu bakar. Sampai terkumpulah kayu yang sangat banyak. Kemudian mereka nyalakan api, maka matanglah makanan yang mereka masukan di dalamnya”

Yaitu dosa yang disepelekan, tidak tampak oleh manusia. Ia mengatakan ini tidak merugikan, ini tidak berpengaruh bagi diriku, ini tidak mungkin menjauhkan diriku dari jalan istiqomah, perbutan ini tidak akan membuat Allah murka.

Ingat sabda Nabi

«إيَّاكم ومحقَّراتِ الذنوب، فإنهنَّ يجتمعن على الرجل حتى يُهلكنه»

“Waspadalah dengan dosa-dosa yang kecil, karena ketika berkumpul akan menghancurkan pelakunya”

Demikianlah, bagaimana Nabi menggambarkan dosa kecil yang terus menggunung akhirnya mencelakakan pelakunya. Kemudian memberikan permisalan yang lebih spesifik bagaimana kehancuran karena dosa kecil dan yang sering disepelekan. Rasulullah bersabda  :

«كمثل قوم نزلوا أرض فلاة، فحضر صنيع القوم، فجعل الرجل ينطلق فيجيء بالعود، والرجل يجيء بالعود، حتى جمعوا سواداً، فأججوا نارا وأنضجوا ما قذفوا فيها»

 “seperti sekelompok orang sampai di tempat yang terbuka, kemudian mereka ingin memasak makanan. Maka setiap orang mengumpulkan kayu bakar. Sampai terkumpulah kayu yang sangat banyak. Kemudian mereka nyalakan api, maka matanglah makanan yang mereka masukan di dalamnya”

Demikianlah, terjebaklah ia dari dosa ke dosa, kesalahan demi kesalahan. Sunguh seorang mukmin dituntut untuk menjaga dirinya dari dosa kecil dan besar. Allah ta’ala berfirman :

﴿وذَرُوا ظَاهِرَ الإثْمِ وبَاطِنَهُ

“dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan tidak nampak”

Allah memerintahkan kita untuk meninggalkan dosa yang nampak kelihatan oleh manusia atau terdengar dan diketahui orang lain. Sedangkan yang tersembunyi adalah yang hanya engkau ketahui antara dirimu dengan Allah azza wa jalla. Berhatilah hatilah, dan bersungguh-sunguhlah kalian dalam meninggalkan perbuatan itu. “Setiap anak Adam memilki kesalahan” tetapi setiap orang yang berbuat dosa kadang berbeda ketika menyadarinya.

 

Rasulullah salallahu alaihi wa salam bersabda :

«وخير الخطائين التوابون»

“Sebaik-baik orang yang salah adalah yang mau bertaubat”

Nabi menetapkan adanya kesalahn dan dosa. Tapi jangan berhenti di situ saja. Karena sebagian orang mengaku telah melakukan dosa dan beralasan dengan hadis “setiap anak adam berdosa” tetapi dia lalai dengan arahan Nabi yang penting. Bahwa sebaik-sebaik orang yang berbuat salah adalah orang yang mau bertaubat. Jadilah dirimu orang yang suka bertauabat. Tidaklah Nabi mengatakan ‘Taibin’ tapi ‘tawwabun’ sebuah ungkapan untuk menunjukan banyaknya taubat, dan upaya selalu bertaubat dari waktu ke waktu. Mereka tidak mencukupkan dengan satu kali saja. Taubat termasuk ibadah yang tidak boleh ditinggalkan seorang hamba dari waktu ke waktu ata dalam satu keadaan di keadaan di keadaan yang lain. Ia adalah ibadah sepanjang masa. Betapa kita sangat membutuhkannya dengan banyak bertaubat dan istigfar.

Jangan engkau katakan: “tidak mungkin merugikan aku maksiat ini” atau mengatkan “saya bermaksiat tapi tidak ada dampaknya”. Ketahuilah setiap maksiat pasti akan meninggalkan bekasnya. Tetapi ketika penglihatan sudah tertutup, hati terkunci maka tidak akan terasa lagi sebagaimana mayat tidak merasakan lagi. Bertumpuklah dosa sampai hitamlah hatinya, sedangkan ia dalam kelalaian. Ketika itu maka ia tidak mampu lagi untuk sadar. Akan ada penghalang yang menghalanginya kembali ke jalan Allah dan memperbaiki lagi jalan kembali kepada Allah ta’ala.

Perbanyak diri dengan taubat dan istighfar. Muhammad bin Abdullah nabi kita adalah sebaik-baik hamba hatinya, paling dekat dengan Allah dalam ibadah an ketaatan. Orang yang paling takwa. Orang yang paling lurus dalam ibadahnya. Pakah kalian tahu berpa kali beliau beristighfar? Sesungguhnya terhitung dalam satu kali duduknya seperti duduknya kita ini lebih dari 70 kali beristigfar.

«ربِّ اغفر لي، وتب عليَّ، إنك أنت التواب الغفور»

“wahai Allah ampunilah aku, berikan taubat kepadaku, sesungghnya Engkau Maha Pemberi Ampunan dan Taubat”

Ini adalah keadaan orang yang sudah hapus kesalahannya, telah diringankan dari dosa. Telah diangkat derajatnya. Dihilangkan semua gangguannya. Tapi belia sempatkan beristigfar dalam satu majelisnya lebih dari 70 kali.

Diriwayatkan dlam hadis sahih sesungguhnya doa yang diucapkan terakhir dalam salat beliau antara tasyahud dan salam . dari abu Hurairoh bahwasanya Rasulullah membaca dalam sujudnya

« اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ، دِقَّهُ وَجِلَّهُ وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلاَنِيَتَهُ وَسِرَّهُ»

“wahai Allah ampunilah aku, baik dosa yang kecil waupun yang besar, yang pertama dan yang terakhir, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi”

Rasulullah memohon kepada Allah dengan mengharap banyak, meminta ampunan dosa dan kesalahan, baik yang kecil maupun yang besar.

Periksalah dirimu dari pagi sampai petang hari ini. Berapa banyak kesalahanmu? Jangan sampai engkau lalai dengan kesalahan yang tidak diketahui orang lain, tapi Allah mengetahuinya. Berapa banyak kesombongan? Berapa banyak iri dan dengki? Berapa banyak ujub dan rasa ingin dilihat orang lain? Berapa banyak? Berapa banyak? Banyak orang meremehkan kemaksiatan dengan membandingkan dosanya. “saya tidak berzina, saya tidak mencuri, saya tidak durhaka kepada orang tua. Dan lalai semua maksiat ini bukan semua kemaksiatan. Tetapi ada kemaksiatan lain yang bisa mengancurkan. Ia bisa menjatuhkanmu dalam akhir hayat yang menyedihkan. Bertakwalah kepada Allah di dalam rahasia dan terang-terangan. Tinggalkanlah dosa yang nampak.

أقول هذا القول وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرَّحيم.

Khutbah ke dua

الحمد لله حمدَ الشاكرين، أحمده حقَّ حمده، لا أحصي ثناءًا عليه، هو كما أثنى على نفسه، وأشهد أن لا إله إلا الله إله الأولين والآخرين، لا إله إلا هو الرحمن الرحيم، وأشهد أنَّ محمدًا عبدُ الله ورسوله، اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

أما بعد،

فاتَّقوا الله أيها المؤمنون، اجعلوا بينكم وبين عذاب الله وقاية، بطاعته، اجعلوا بينكم وبين عذاب الله وقاية، بالقيام بما أمركم به، اجعلوا بينكم وبين الله وقاية، بترك ما نهاكم عنه، لأن ذلك يحقق لكم سعادة عاجلة، وفوزًا أجلا، ﴿فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وأُدْخِلَ الجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ﴾ ، ﴿إنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا﴾ ، اللهم اجعلنا من عبادك المتقين، وحزبك المفلحين، وأوليائك الصالحين يا رب العالمين.

Kaum mukminin,

Bertakwalah kalian kepada Allah wahai kaum mukminin. Jadikanlah antara kalian dan azab Allah pelindung. Dengan menaati. Jadikanlah pelindung antara kalian dan azab Allah dengan melaksanakan semua yang diperintahkan kepada kalian. Jadikanlan pelindung dengan meninggalkan apa yang dilarang. Karena itu akan menjadikan kebahagiaan yang cepat, dan kemenangan yang akan datang.

﴿فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وأُدْخِلَ الجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Maka siapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke surga maka dia telah beruntung”

﴿إنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

“sesungguhnya kemenangan untuk orang-orang yang bertakwa”

Wahai Allah jadikanlah kami hambaMu yang bertakwa, dan penolongMu yang berbahagia. Dan kekasihMu yang salih wahai Rabb semesta alam.

Wahai kaum mukminin,

Sesungguhnya kita membutuhkan orang yang mengingatkan kita. Orang yang memberikan nasehat. Orang yang menyadarkan kita dari kelalaian. Kebanyakan orang terperdaya dengan kelalaian. Itulah sebab mereka jatuh karena kehidupan dunia. Melupakan akhirat. Oleh karena itu kaum mukminin sudah sepantasnya memperbaiki dirinya. Dan memperhatikan jalan menuju Tuhannya.

﴿كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“setiap jiwa bertanggung jawab dengan apa yang ia usahakan”

Jangan terperdaya dengan banyaknya pendosa. Jangan terpana dengan banyaknya orang yang lalai. Jangan terpesona dengan banyaknya orang yang berpaling. Karena Allah tidak menghisab perkelompok tapi setiap jiwa akan mendapat hisab. Ia akan tanyakan tentang perintahNya, laranganNya. Apa yang kau lakukan dengannya? Apa yang kau kerjakan di dalamnya? Kenapa engkau melakukan kemaksiatan di dalamnya? Sungguh Allah telah memberikan kabar kepada kita dalam kitabNya bahwa setiap kita akan ditanya pertanggungjawabannya.

﴿كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ

“setiap jiwa bertanggung jawab dengan apa yang ia usahakan”

Yakni bertanggung jawab. Setiap jiwa dari yang ia kerjakan dan usahakan akan dimintai pertanggungjawabannya. Amalanmu bisa saja menyelamatkanmu, atau akan mencelakakanmu. Jika berupa amal saleh akan menyelamatkanmu dari azabmu dan membebaskanmu dari hukumannya. Jika selain itu maka janganlah mencela kecuali diri sendiri.

sendiri.

 اللهم ألهمنا رشدنا وقنا شرَّ أنفسنا، قوموا بما أمركم الله تعالى به، من إصلاح أنفسكم، وأوصوا أهليكم بكلِّ خير، عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ: «أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»

Ya Allah, berikanlah kepada kami kepahaman, lindungi kami dari kejelekan jiwa kami.

Para jamaah, tunaikan apa yang diperintahkan Allah kepada kalian. Dari perbaikan diri dan keluarga dengan semua jenis kebaikan.

Ibnu Umar meriwatkan dari Nabi salalallu alai wa salam, bahwasanya beliau bersabda :

“Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin jawab dan akan dimintai pertanggungjawaban tentang orang yang dipimpinnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin bagi warganya, dan dia akan ditanya tentang tangung jawabnya dalam memimpin manusia. Setiap laki-laki adalah pemimpin rumah tangganya, ia akan ditanya tentang anggota keluarganya. Setiapa istri adalah penanggung jawab rumah suaminya dan anaknya, ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah penanggung jawab harta majikannya, ia akan ditanya tentang penjagaannya. Setiap kalian memiliki tanggung jawab dan akan dimintai pertangjawabannya”

Engkau tidak akan pernah selamat ketika mengurangi kewajiban yang menjadi hak keluargamu. Dan hak orang telah dijadikan pemimpin untuk mereka. Dan ini berlaku untuksiapa saja, agar orang tidak mengatakan ini khusus untuk orang tua saja. Perhatikan hadis ini mengandung maksud untuk semua manusia.

Rasulullah bersabda: “barang siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah adalah selemah-lemah iman”.

Allah berfirman :

﴿قُوا أَنفُسَكُمْ وأَهْلِيكُمْ نَارًا﴾  

 

“jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka”

Menjaga keselamatan keluarga dengan cara wasiat, nasehat ibu, bapak, saudara. Kita semua sudah dituntut untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan melarang kemungkaran. Sesuai kemampuan kita. Sesungguhnya dosa menghalangi datangnya kebaikan untuk manusia, untukmu. Menutup ketenangan hati dan lapang dada. Perbanyaklah beristigfar agar semua itu hilang.

Dosa ini sungguh berbahaya. Akibatnya berdampak di bumi dan di langit. Allah berfirman :

﴿ظَهَرَ الفَسَادُ فِي البَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا

“telah nampak kerusakan di muka bumi dan lautan karena ulah tangan manusia agar kami rasakan kepada mereka akibat yang mereka perbuat”

Yaitu agar manusia melihat dampak dosa, dan akibat perbuatan mereka. Kenapa ?

Allah berfirman :

﴿لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“agar kalian kembali”

Yaitu agar kalian sadar.

Jika banyak lewat kepada kita peringatan, tetapi jiwa juga belum mau kembali, maka disitulah kelalaian mengatur hati manusia. Tidak akan mungkin nasehat bermanfaat, tidak pula peringatan. Sampai datang kepada mereka hukuman, turun kepada mereka murka. Ketika itu tidaklah bisa menyalahkan kecuali dirinya sendiri. Allah telah mendidik hambaNya dalam keadaan khusus maupun umum. Kemudian Allah halangi mereka dari apa yang disukai. Mereka mendapati apa yang dibenci. Semua itu agar manusia kembali. Bisa jadi musibah, hilangnya kenikmatan merupakan sebab kesadaran diri.

Allah berfirman :

﴿فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ﴾  

“dengan kezaliman orang-orang Yahudi maka kami haramkan untuk mereka yang baik, yang pernah dihalalkan untuk mereka“

Pengharaman di sini berupa larangan secara takdir, yaitu Allah menentukan dengan menglanginya dari sesuatu yang ia sukai karena kezalimannya sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil.

﴿فَبِظُلْمٍ مِّنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ

“dan kezaliman orang Yahudi maka Kami haramkan apa yang baik yang pernah dihalalkan untuk mereka”

Larangan ini juga bisa masuk ke dalam larangan syar’i, bisa juga qadary. Dengandihalanginya manusia mendapatkan kenikmatan dan hal yang baik atas hambaNya. Sebabnya karena dosa. Dan sesungguhnya yang bisa menolak murka Allah, bisa hilangnya mala petaka dan musibah baik yang khusus maupun umum adalah dengan kembali kepada Tuhan pemilik bumi dan langit. Dengan banyak istigfar dan taubat. Bertakwalah kepada Allah dan siapkan sebaik-baik perbekalan.

Dan taubat secara ringkas adalah penyesalan dari dosa, meninggalkan kesalahan yang ada, bersungguh-sungguh untuk memperbaiki diri di masa depan. Inilah yang diperintahkan Allah dalam firmanNya :

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

“wahai orang-orang yang beriman bertaubalah kalian dengan taubat yang sebenar-benarnya”

اللهمَّ ألهمنا رشدنا، وقنا شر أنفسنا، اسلك بنا سبيل الرَّشاد، يا ربَّ العالمين، اجعلنا من عبادك، وأوليائك وحزبك، واصرف عنَّا السوء والفحشاء يا الله، اللهم إنَّا نسألك الهدى والتُّقى والعفاف والرَّشاد والغِنى، اللهم أحسن عاقبتنا في الأمور كلِّها، اللهم إنا نسألك من فضلك إيمانًا صادقًا وعملًا صالحًا، ورشدًا في الظاهر والباطن، يا ربَّ العالمين، اللهم أمِّنَّا في أوطاننا، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا حي يا قيوم، اللهم صلِّ على محمد، وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم، وعلى آل إبراهيم، إنك حميد مجيد

 

 

 

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus