Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

aqeedah / Apakah menetapkan sifat-sifat Allah bertentangan dengan tafwidl (menyerahkan maknanya kepada Allah)?

Apakah menetapkan sifat-sifat Allah bertentangan dengan tafwidl (menyerahkan maknanya kepada Allah)?

mempublikasikan tanggal : 2016-05-21 | Views : 1900
- Aa +

Berkat keutamaan Allah kita jadi mengetahui akidah salaf (para sahabat, tabi’in dan atba’ut-tabi’in) dalam Al-Asma wash-shifat, yaitu menetapkan sifat Allah 'Azza wa Jalla sebagaimana adanya, dan hal ini sangat jelas jika dilihat dari nukilan perkataan mereka. Akan tetapi, adakah dalil yang menyatakan bahwa mereka juga menetapkan maknanya, dan menyerahkan kaifiyatnya saja?

Karena kebanyakan dari nukilan perkataan salaf memberi isyarat seakan-akan mereka menyerahkan makna dari Al-Asma wash-shifat itu kepada Allah, tampak dari teks perkataan mereka: ”Aku mengimani apa yang datang dari Allah sesuai dengan makna yang Allah kehendaki,” atau seperti pernyataan mereka: ”Sesungguhnya Allah bersinggasana di atas Arsy, seperti yang Dia kehendaki, mendekat kepada hamba-Nya, dan turun kelangit bumi sebagaimana Dia kehendaki.."

Ya benar, pada perkataan mereka terdapat penetapan sifat, akan tetapi yang aku pahami bahwa mereka menyerahkan maknanya kepada Allah Azza wa Jalla.

هل يتعارض إثبات الصفات مع التفويض؟

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Tidak ada keraguan, bahwa As-Salaf Ash-Shalih dari kalangan sahabat dan setelah mereka yang hidup pada abad keemasan, demikian pula yang mengikuti mereka dengan baik, mereka menetapkan makna-makna apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, dan apa yang telah Rasulullah kabarkan seputar sifat Allah.

Sulit untuk mengumpulkan sebagian nukilan dari perkataan As-Salaf Ash-Shalih,  apalagi mensensus semuanya. Dan siapa yang menisbatkan kepada kalangan salaf pendapat yang menyelisihi mereka dalam masalah ini, maka ada dua kemungkinan: Mungkin dia tidak faham sebagian nukilan dari perkataan mereka, sehingga menafsirkannya tidak sesuai dengan pemahaman mereka; Atau dia menemukan pernyataan yang bersifat rancu, seperti pernyataan mereka secara mutlak: ”Tidak boleh memberi kaifiyat dan tidak boleh pula memberi makna.”

Yang benar adalah memahami teks yang rancu seperti ini, dengan membawanya pada pernyataan mereka yang jelas. Jika kerancuan terjadi pada kalam Allah yang Maha Bijak dan Maha Mengetahui, apalagi pada perkataan manusia.

Agar lebih jelas saya menasehati Anda untuk membaca karangan saudaraku As-Syaikh Dr. Ahmad bin Abdurrahman Al-Qadhi dalam kitabnya “Madzhab Ahli Tafwidh” dalam memahami teks-teks sifat; beliau telah membahas dalil-dalil kelompok Al-Mufawwidhah (yang menyerahkan makna sifat kepada Allah) dengan pemaparan dan diskusi. Semoga Allah memberi taufiq kepada kita semua.

Saudaramu,
Prof. Dr. Khalid bin Abdullah Al-Mushlih
18/11/1424 H

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus