Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

Puasa / Apa hukum mengikat beberapa mathla' dengan mathla' Mekah dalam hal puasa dan lain sebagainya?

Apa hukum mengikat beberapa mathla' dengan mathla' Mekah dalam hal puasa dan lain sebagainya?

mempublikasikan tanggal : 2016-09-08 | Views : 1519
- Aa +

Apa hukum mengikat beberapa mathla' dengan mathla' Mekah dalam hal puasa dan lain sebagainya?

ما حكم ربط المطالع بمطلع مكة في الصيام وغيره؟

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

Para ulama memiliki pembahasan panjang lebar tentang permasalahan ini -yaitu permasalahan ketetapan bulan-. Hukum asal dalam permasalahan ini adalah firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

﴿فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ﴾ [البقرة:185]

Artinya: "Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu." (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi hukum itu berkaitan dengan menyaksikan bulan; dan menyaksikan bulan dilakukan dengan melihat hilal lantaran hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma:

«صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته.»

"Bepuasalah karena melihatnya dan berbukalah (berhari raya) karena melihatnya." Di dalam hadits yang lain disebutkan:

«لا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه.»

"Janganlah berpuasa sampai kalian melihatnya; dan janganlah berbuka (berhari raya) sampai kalian melihatnya." Juga dengan menyempurnakan bilangan bulan Sya'ban lantaran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda:

«فإن غُمَّ عليكم أو غُبي عليكم –كما في حديث ابن عمر- فأكملوا عدة شعبان ثلاثين يوماً.»

"Jika dia tertutup atau terhalang atas kalian -sebagaimanayang tercantum dalam hadits Ibnu Umar- maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban tiga puluh hari."

Itulah cara-cara untuk menetapkan bulan. Cara-cara tersebut apakah berlaku khusus bagi daerah dan pihak tertentu atau dia berlaku umum? Dimana apabila hilal itu terlihat di suatu tempat, apakah penglihatan itu berlaku umum bagi seluruh penjuru negeri?

Dalam hal ini para ulama memiliki dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa masing-masing daerah melihat hilalnya sendiri-sendiri, dan itu biasa dikenal dengan ikhtilaf mathali'. Ini adalah madzhab Imam Syafi'i Rahimahullah.

Jumhurulama berpendapat bahwa apabila hilal itu terlihat di suatu daerah, maka itu berlaku umum dan hukumnya mengena ke seluruh negeri Islam. Itu adalah madzhab para ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah.

Jadi, para ulama berselisih pendapat tentang permasalahan itu.Namun secara realitas praktis, permasalahan ini belum terselesaikan; dantidak ada ruang untuk ijtihad sehubungan dengan individu, terutama individu-individu yang berada di negara-negara Islam. Sehingga mereka harus mengikutiapa yang diumumkan oleh negara-negara mereka. Di dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan yang lainnya dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha dan dari hari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون.»

"Puasa adalah hari kalian berpuasa. Idul fitri adalah hari kalian berbuka. Idul adha adalah hari kalian berkurban." Di dalam riwayat kedua beliau bersabda:

«الصوم يوم يصوم الناس، والفطر يوم يفطر الناس، والأضحى يوم يضحي الناس.»

"Puasa adalah hari orang-orang berpuasa. Idul fitri adalah hari orang-orang berbuka. Idul adha adalah hari orang-orang berkurban." Itu menunjukkan bahwa seseorang mengikuti daerah yang meliputinya. Jadi, apabila orang-orang berpuasa, dia harus berpuasa. Apabila orang-orang berhari raya, dia harus berhari raya.

Oleh karena itu kita katakan secara realitas praktis, "Sesungguhnya setiap negara mengikuti rukyah yang diumumkan atau pihak-pihak yang mengabarkan tentang ketetapan bulan."

Permasalahan menyatukan negara-negara Islam dalam satu mathla' adalah madzhab fikih, bahkan itu adalah madzhab jumhur ulama. Akan tetapi madzhab-madzhab tersebut hanyalah teori yang tidak dapat diterjemahkan dalam realitas praktis selama perkaranya tetap masih seperti ini, yaitu bahwa setiap negara memiliki pihak berwenang yang mengumumkan tentang rukyah hilal dan mengabarkan orang-orang tentang masuk dan keluarnya bulan.

See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16781.html#sthash.Agm4Ch3J.dpuf

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus