Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

Puasa / Kenapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Memperbanyak Puasa Di Bulan Sya'ban?

Kenapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam Memperbanyak Puasa Di Bulan Sya'ban?

mempublikasikan tanggal : 2016-06-01 08:29 AM | Views : 693
- Aa +

Pertanyaan

Kenapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbanyak puasa di bulan Sya'ban?

لماذا كان النبي صلى الله عليه وسلم يكثر من صيام شعبان؟

Menjawab

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala, Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala,kami akan menjawab pertanyaanAnda, kami katakan:

Memahami alasan dan rahasia hukum dan amalan syariat agama, baik itu tercantum di dalam ayat-ayat Al-Qur`an Al-Karim maupun di dalam sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, adalah termasuk dari puncak ilmu dan termasuk di antara perkara-perkara yang mendatangkan manfaat bagi seseorang setelah mengetahui tentang kitab Allah Ta'ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena dengannya dada menjadi lapang dan hikmah Allah Ta'ala dalam hukum-hukum dan hal-hal yang disyariatkan-Nya dapat dipahami, sehingga itu dapat memotivasi diri untuk beramal.

Dahulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbanyak puasa di bulan Sya'ban, sebagaimana yang telah diriwayatkan, sampai-sampai Aisyah Radhiyallahu Anha -sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim- berkata:

«لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَكْمِلُ صِيَامَ شَهْرٍ قَطٌّ غَيْرَ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُهُ كُلَّهُ.» وفي بعض الروايات: «كَانَ يَصُوْمُهُ إِلَّا قَلِيْلاً.»

"Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah menyempurnakan puasa satu bulan penuh selain bulan Sya'ban, karena sesungguhnya dahulu beliau mempuasakannya seluruhnya."

Di sebagian riwayat disebutkan: "Dahulu beliau mempuasakannya kecuali sedikit." Itu menunjukkan akan perhatian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terhadap bulan mulia itu dengan berpuasa dan dengan memperbanyak mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala dengan puasa.

Para ulama telah mencari rahasia dan alasan, kenapa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbanyak puasa di bulan Sya'ban? Ada beberapa pendapat tentang hal tersebut. Di antaranya ada yang bersandar kepada hadits-hadits; dan di antaranya ada yang bersandar kepada penelitian, pemikiran, dan pemerhatian tentang rahasia-rahasia amalan. Adapun pendapat yang bersandar kepada hadits, maka telah diriwayatkan bahwa pada bulan Sya'ban amal perbuatan dipaparkan kepada Allah Azza wa Jalla.

Oleh karena itulah dahulu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperbanyak puasa, karena beliau ingin jika amal perbuatannya dipaparkan ketika beliau dalam keadaan berpuasa, sebagaimana hal itu diriwayatkan seperti puasa hari Senin dan Kamis. Akan tetapi hadits yang diriwayatkan tentang hal tersebut tidak shahih, bahkan isnadnya dha'if. Meskipun sebagian ulama ada yang menshahihkannya, namun penelitian yang benar untuk isnad hadits itu tidak mendukung penetapannya.

Jadi, hadits tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah menurut pendapat yang zhahir, wallahu a'lam. Akan tetapi pendapat ini dianut oleh sebagian ulama. Dengan demikian, alasan yang pertama adalah bahwa Sya'ban adalah bulan yang padanya amal perbuatan dipaparkan kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itulah dahulu beliau memperbanyak puasa, karena beliau ingin jika amal perbuatannyadipaparkan ketika beliau dalam keadaan berpuasa.

Alasan kedua yang disebutkan oleh sekelompokulama adalah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dahulu disibukkan oleh safar, jihad, dan urusan-urusan umat hingga tidak sempat berpuasa sunnah di setiap bulan. Terkadang satu bulan berlalu tanpa beliau berpuasa sedikit pun darinya meskipun beliau menganjurkan untuk berpuasa. Dahulu Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, "Dahulu beliau selalu berpuasa sampai-sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah berbuka; dan beliau selalu berbuka sampai-sampai kami mengira bahwa beliau tidak pernah berpuasa." Sehingga mereka berkata, "Dahulu beliau mengganti puasa-puasa sunnah yang terluputkan di bulan-bulan atau hari-hari yang tidak beliau puasakan pada bulan Sya'ban."

Alasan ketiga yang disebutkan oleh sekelompok ulama tentang sebab puasa Sya'ban adalahوbahwa dia seperti ibadah sunnah yang dilakukan sebelum ibadah wajib; karena sesungguhnya puasa Sya'ban dapat mempersiapkan dan melatih diri dan menguatkan badan. Sehingga ketika kewajiban itu datang, jiwa telah kuat, siap, dan terlatih untuk berpuasa menahan diri dari sejak terbit fajar sampai dengan tenggelam matahari. Jadi puasa Sya'ban itu termasuk dari bentuk persiapan dan pelatihan diri sebelum datang kewajiban. Hal itu juga berlaku dalam shalat; karena sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

"بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ."

"Antara setiap dua adzan (adzan dan iqamat) ada shalat (sunnah)."

Dahulu beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam senantiasa melaksanakan shalat sunnah sebelum Shalat Fajar, dan shalat sunnah ratibah sebelum shalat Zhuhur. Jadi diriwayatkan dari beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau melaksanakan shalat sunnah sebelum shalat fardhu untuk kesiapan diri.

Berdasarkan perhatian itu sebagian ulama memperluas permasalahan dan berkata, "Bulan Sya'ban juga bulan untuk memperhatikanAl-Qur`an." KarenaAl-Qur`an merupakan sarana untuk menyibukkan diri di bulan Ramadhan. Bulan Al-Qur`an adalah bulan Ramadhan. Sehingga dahulu mereka membaca Al-Qur`a di bulan Sya'ban lebih banyak dari yang biasanya mereka baca di bulan yang lainnya, sebagaimana hal itu disebutkan oleh Ibnu Rajab Rahimahullah di dalam Latha`if Al-Ma'arif.

Pendapat-pendapat tersebut di atas adalah kesimpulan dari apa yang disebutkan oleh para ulama Rahimahumullah tentang alasan puasa Sya'ban. Yang paling dekat dengan kebenaran adalah pendapat terakhir, yaitu bahwa puasa Sya'ban dapat mempersiapkan dan membiasakan diri untuk sibuk dengan puasa. Sehingga ketika kewajiban puasa itu datang, jiwa telah siap dan siaga untuk menunaikan kewajiban tersebut. Wallahu a'lam.

 

Topik yang Dilihat

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus