Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

مناسك الحج والعمرة / Batal wudlunya saat thawaf

Batal wudlunya saat thawaf

mempublikasikan tanggal : 2016-08-16 08:07 PM | Views : 955
- Aa +

Pertanyaan

Barangsiapa batal wudlunya setelah putaran kedua dari thawaf, kemudian dia pergi berwudlu dan kembali, apakah dia melanjutkan putaran ketiga dari thawafnya atau mengulangi thawafnya dari putaran pertama?

انتقض وضوؤه أثناء الطواف

Menjawab

Segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam, aku bershalawat dan bersalam atas Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du.

Sebagai jawaban dari pertanyaanmu, kita katakan :

Untuk lebih berhati-hati hendaknya dia mulai dari putaran pertama, akan tetapi jika dia memulai darimana dia berakhir atau memulai putaran dari start awalnya maka tidak mengapa, dan terhitung telah melaksanakan kewajiban; karena terputusnya thawaf disebabkan sesuatu yang bersifat darurat, pendapat ini dikemukakan oleh ulama yang menyatakan syarat thaharah (bersuci) atau kewajiban thaharah (sebelum melakukan thawaf); sedangkan jumhur ulama berpendapat wajibnya tertib antara putaran-putaran thawaf, dan yang paling keras dalam hal ini adalah pendapat Al Imam Malik –semoga Allah merahmatinya.

Yang terpenting dari pendapat di atas adalah apabila durasi putus panjang, maka hendaknya memulai dari pertama, apalagi jika dia sengaja dengan kehendaknya sendiri memperpanjang durasi putus, seperti melewati -misalnya- dan mengambil teh atau memilih tempat yang jauh; adapun jika dia buru-buru dan pergi ke tempat yang dekat, kemudian arus kembali atau sesak menghalangi antara dia dan memulai kembali, maka hal ini tidak mengapa walaupun durasi putusnya panjang.

Adapun permasalahan thawaf tanpa bersuci, maka ini adalah permasalahan khilafiyah, dan pendapat Syaikh kita –Ibnu Utsaimin- untuk orang yang bertanya kepada beliau tentang permualaan thawaf, maka beliau menjawabnya : berwudlulah, dan jangan kamu thawaf melainkan dalam keadaan berwudlu; adapun jika telah terjadi dan bertanya kepada beliau bahwa dia tahawaf dalam keadaan tidak bersuci, maka beliau berpendapat bahwa thawafnya sah; karena tidak ada dalil yang jelas dan terang tentang kewajiban bersuci atau syarat bersuci dalam thawaf, dan pendapat ini juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –semoga Allah merahmati beliau-, karena beliau berpendapat bahwa bersuci tidak disyaratkan dan tidak diwajibkan, bahkan beliau berkata :”Tidak ada keraguan –bagi orang yang meneliti teks-teks syariat- bahwa tidak terdapat dalil akan kewajiban bersuci, akan tetapi telah tetap kesunnahannya; karena Nabi shallallahu alaihi wasallam –seperti dalam hadits Aisyah-:”Ketika mendatangi masjidil haram yang pertama kali beliau mulai adalah berwudlu kemudian thawaf”.

Topik yang Dilihat

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus