Permintaan Formulir Fatwa

Captcha yang salah
×

Terkirim dan akan dijawab

×

Maaf, Anda tidak dapat mengirim lebih dari satu fatwa per hari.

Puasa / Apa hukum mengkhususkan malam lailatul qadr dengan beberapa ibadah?

Apa hukum mengkhususkan malam lailatul qadr dengan beberapa ibadah?

mempublikasikan tanggal : 2016-09-08 08:29 AM | Views : 292
- Aa +

Pertanyaan

Apa hukum mengkhususkan malam lailatul qadr dengan beberapa ibadah?

ما حكم تخصيص ليلة القدر ببعض العبادات؟

Menjawab

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan keberkahan semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya. Amma ba'du:

Dengan memohon taufik kepada Allah Ta'ala kami akan menjawab pertanyaanmu, kami katakan:

Berkaitan dengan pengkhususan malam lailatul qadr; yang disyariatkan pada malam lailatul qadr yang dijelaskan oleh sunnah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah bangun malam. Di dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

«من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه.»

"Barangsiapa yang bangun malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosanya yang telah lalu." Bangun malam mengandung sejumlah amal ibadah yang paling penting, paling nampak, dan paling agung setelah memuji, menyanjung, meng-agungkan, dan memuliakan Allah Ta'ala dan membaca Al-Qur`an adalah berdoa. Itulah amal ibadah yang paling penting. Oleh karena itu diriwayatkan di dalam Sunan At-Tirmidzi dari hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya dia berkata, "Wahai Rasulullah, apa pendapat-mu jika aku mengetahui malam lailatul qadr, apa yang harus aku ucapkan?" Beliau menjawab, "Ucapkanlah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan. Maka maafkanlah aku." Meskipun pada isnad hadits di atas terdapat komentar, akan tetapi dia layak untuk dijadikan sebagai hujjah. Itu menunjukkan tentang sambutan para shahabat Radhiyallahu Anhum pada malam itu untuk berdoa. Karena yang dipahami oleh Aisyah Radhiyallahu Anha dari kemuliaan malam itu adalah bahwa dia waktu untuk berdoa. Oleh karena itu dia bertanya, "Apa yang harus aku ucapkan?" Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: "Ucapkanlah, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan mencintai kemaafan. Maka maafkanlah aku."

Jadi, yang disyariatkan pada malam itu adalah bangun malam dan bersungguh-sungguh men-carinya dengan shalat, mengagungkan dan memuliakan Allah Ta'ala, dan memperbanyak doa, terutama doa yang menggabungkan antara kebaikan dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya apabila seorang hamba memperoleh kemaafan, maka sungguh dia telah memperoleh karunia yang agung, pahala yang besar, dan kebahagiaan yang puncak di dunia dan di akhirat. Karena sesungguhnya keburukan yang menimpa manusia di dunia adalah disebabkan kemaksiatan-kemaksiatan mereka. Sehingga apabila Allah Ta'ala telah memaafkannya, maka mereka akan selamat dari musibah-musibah yang besar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا عَنْ كَثِيرٍ﴾ [الشورى:30]

Artinya: "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syura: 30).

Adapun di akhirat, maka sesungguhnya orang yang dimaafkan oleh Allah Ta'ala, dialah orang beruntung yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

﴿فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ﴾ [آل عمران:185].

Artinya: "Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung." (QS. Ali Imran: 185). Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar mengantarkan kita semua pada malam yang mulia itu dan memberikan kita kemudahan untuk memperoleh sesuatu yang membuat jiwa-jiwa kita menjadi tenang seperti ketaatan, kebaikan, karunia, dan kenikmatan dari Rabb Maha Derma dan Maha memberi.

Apakah pada malam itu ada keharusan umrah? Jawaban: Tidak boleh mengkhususkan umrah pada malam itu, sebagaimana tidak boleh mengkhususkan menyembelih pada malam itu dan tidak boleh mengkhususkan sesuatu pun amalan pada malam itu seperti menyembelih, nadzar untuk menyembelih, atau lain sebagainya; karena hal itu tidak diriwayatkan dari kaum salaf. Akan tetapi malam itu adalah waktu untuk semua ibadah dan untuk semua ketaatan. Maka barangsiapa yang bersungguh-sungguh pada malam itu dengan berbagai macam ketaatan dan berbagai jenis kebajikan, maka dia berada di atas kebaikan dan semoga amalannya diterima tanpa menyakini bahwa amal tersebut pada malam itu secara khusus memiliki keistimewaan tertentu. Adapun jika dia berkata, "Saya semakin semangat untuk bershadaqah di malam itu." Maka kita katakan, "Itu baik." Atau dia berkata, "Saya semakin semangat untuk membaca Al-Qur`an di malam itu." Maka kita katakan, "Itu baik." Atau dia berkata, "Saya semakin semangat untuk melakukan suatu kebajikan di malam itu." Maka itu baik. Akan tetapi yang dilarang adalah mengkhususkan amalan tertentu. Oleh karena itu diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu:

«لا تخصُّوا يوم الجمعة بصيام ولا ليلته بقيام.»

"Janganlah kalian khususkan hari Jumat dengan ibadah puasa dan malam harinya dengan ibadah shalat." Beliau melarang pengkhususan, yaitu seseorang meyakini keutamaan suatu amalan tertentu di suatu malam tertentu. Dalam hal ini harus tauqif (mengikat suatu amal dengan dalil); dan kita telah sebutkan perkara yang disyariatkan di dalam lailatul qadr.

See more at: http://www.almosleh.com/ar/index-ar-show-16776.html#sthash.0a2TbaVZ.dpuf

Topik yang Dilihat

Komentar (0)

×

Apakah Anda benar-benar ingin menghapus item yang sudah Anda kunjungi?

Ya, Hapus